Topik : HIV/AIDS bukan monster
HIV/AIDS adalah bukan monster yang
mematikan jika kita tahu bagaimana cara mencegah penyakit itu. HIV/AIDS memang
penyakit yang mematikan jika kita sudah terjangkit pada virus tersebut, bahkan
HIV/AIDS dikatakan belum memiliki obat yang benar-benar bisa menyembuhkan
penyakit tersebut. Di Indonesia sendiri papua adalah kasus AIDS terbanyak
berkisar 359.43 jiwa yang meninggal. Sedangkan di dunia kasus AIDS terbanyak
terjadi di afrika sub-sahara.
HIV (human Immunodeficiency virus)
yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia orang yang terkena
virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi
oportunistik ataupun mudah terkena tumor.
Meskipun penangangan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembagan virus,
namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
AIDS (Acquired Immune Deficiency
Syndrom) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau syndrome yang timbul karena rusaknya system kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang
menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan
lain-lain).
HIV dan virus-virus sejenisnya
umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran
mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti
darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan
dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfuse
darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan,
bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh
tersebut.
AIDS merupakan bentuk terparah atas
akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ
vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ makrofaga dan sel dendintrik.
HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+
di butuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi dengan baik. Bila HIV
telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per
mikroliter darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya
ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi
infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya
AIDS; yang di definisikan dengan memerikasa jumlah sel T CD4+ di dalam darah
serta adanya infeksi tertentu.
Tanpa terapi antiretrovirus,
rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah Sembilan sampai
sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup detelah mengalami AIDS hanya berkisar
9,2 bulan. Namun, laju perkembangan penyakit ini pada orang sangat bervariasi,
yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak factor yang mempengaruhinya,
diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk melawan HIV (seperti fungsi kekebalan
tubuh) dari orang yang terinfeksi.
Tiga jalur utama masuknya virus HIV
ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan denga cairan atau
jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama
periode sekitar kelahiran. Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata
dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi
dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara
umum dapat diabaikan.
Sampai saat ini tidak ada vaksin
atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk
pencegahan didasarkan pada penhindaran kontak dengan virus atau, jika gagal
perawatan antitrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara
signifikan, disebut post-exposure
prophylaxis (PEP) . PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut
banyak waktu. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti
diare, tidak enak badan mual dan lelah.
Jadi, jika dapat simpulkan HIV/AIDS
bisa kita hindari asalkan kita tahu dengan benar bagaimana cara untuk mencegah
virus HIV masuk ke dalam tubuh kita. Karena yang sudah kita bahas bahwa
penyebaran virus HIV itu membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan tanpa kita
sadari bahwa kita sudah terjangkit penyakit tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar