Sabtu, 03 Januari 2015

opini 1

Topik : HIV/AIDS bukan monster

HIV/AIDS adalah bukan monster yang mematikan jika kita tahu bagaimana cara mencegah penyakit itu. HIV/AIDS memang penyakit yang mematikan jika kita sudah terjangkit pada virus tersebut, bahkan HIV/AIDS dikatakan belum memiliki obat yang benar-benar bisa menyembuhkan penyakit tersebut. Di Indonesia sendiri papua adalah kasus AIDS terbanyak berkisar 359.43 jiwa yang meninggal. Sedangkan di dunia kasus AIDS terbanyak terjadi di afrika sub-sahara.
HIV (human Immunodeficiency virus) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penangangan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembagan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau syndrome yang timbul karena rusaknya system kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV; atau infeksi virus-virus lain yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfuse darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
AIDS merupakan bentuk terparah atas akibat infeksi HIV. HIV adalah retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan manusia, seperti sel T CD4+ makrofaga dan sel dendintrik. HIV merusak sel T CD4+ secara langsung dan tidak langsung, padahal sel T CD4+ di butuhkan agar sistem kekebalan tubuh dapat berfungsi dengan baik. Bila HIV telah membunuh sel T CD4+ hingga jumlahnya menyusut hingga kurang dari 200 per mikroliter darah, maka kekebalan di tingkat sel akan hilang, dan akibatnya ialah kondisi yang disebut AIDS. Infeksi akut HIV akan berlanjut menjadi infeksi laten klinis, kemudian timbul gejala infeksi HIV awal, dan akhirnya AIDS; yang di definisikan dengan memerikasa jumlah sel T CD4+ di dalam darah serta adanya infeksi tertentu.
Tanpa terapi antiretrovirus, rata-rata lamanya perkembangan infeksi HIV menjadi AIDS ialah Sembilan sampai sepuluh tahun, dan rata-rata waktu hidup detelah mengalami AIDS hanya berkisar 9,2 bulan. Namun, laju perkembangan penyakit ini pada orang sangat bervariasi, yaitu dari dua minggu sampai 20 tahun. Banyak factor yang mempengaruhinya, diantaranya ialah kekuatan tubuh untuk melawan HIV (seperti fungsi kekebalan tubuh) dari orang yang terinfeksi.


Tiga jalur utama masuknya virus HIV ke dalam tubuh ialah melalui hubungan seksual, persentuhan denga cairan atau jaringan tubuh yang terinfeksi, serta dari ibu ke janin atau bayi selama periode sekitar kelahiran. Walaupun HIV dapat ditemukan pada air liur, air mata dan urin orang yang terinfeksi, namun tidak terdapat catatan kasus infeksi dikarenakan cairan-cairan tersebut, dengan demikian risiko infeksinya secara umum dapat diabaikan.
Sampai saat ini tidak ada vaksin atau obat untuk HIV atau AIDS. Metode satu-satunya yang diketahui untuk pencegahan didasarkan pada penhindaran kontak dengan virus atau, jika gagal perawatan antitrovirus secara langsung setelah kontak dengan virus secara signifikan, disebut post-exposure prophylaxis (PEP) . PEP memiliki jadwal empat minggu takaran yang menuntut banyak waktu. PEP juga memiliki efek samping yang tidak menyenangkan seperti diare, tidak enak badan mual dan lelah.

Jadi, jika dapat simpulkan HIV/AIDS bisa kita hindari asalkan kita tahu dengan benar bagaimana cara untuk mencegah virus HIV masuk ke dalam tubuh kita. Karena yang sudah kita bahas bahwa penyebaran virus HIV itu membutuhkan waktu yang sangat lama bahkan tanpa kita sadari bahwa kita sudah terjangkit penyakit tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar